Search

Popular Posts

Monday, January 28, 2013

Valerik - Prolog



Salju turun dengan damai, angin tampak tenang. Tadi malam baru saja badai hebat melewati kota. Meskipun begitu orang-orang masih enggan untuk keluar rumah mereka karena di luar terlihat hamparan selimut putih−beku−menumpuk di jalanan. Membuat suasana kota tampak lengang dan tak terlihat satu makhluk hidup pun berada di tengah-tengahnya.
Badai memang telah berlalu namun musim dingin masih harus dijalani beberapa waktu lagi. Climate change memang telah menjadi suatu fenomena yang bukan sekadar isu belaka. Dan sebagian dari orang tua mereka meyakini bahwa hal ini terjadi bukan hanya karena faktor alam. Melainkan ada kekuatan-kekuatan kuno yang mencoba mengendalikan dan ingin merusak umat manusia.
Tak lama terlihat satu−atau dua−kehidupan, seorang wanita yang mengenakan mantel dan membawa buntalan kain di pangkuannya−seorang bayi. Ia berjalan dengan gontai, sepertinya tanpa tujuan. Dengan bibir yang pucat dan tenggorokan yang kering kehausan, akhirnya Ia memilih untuk berhenti sejenak di depan pintu sebuah rumah bergaya lama. Ia pun tertidur.

 
Saat sang pemilik rumah menemukan wanita itu, Ia segera membawanya ke dalam. Tubuh wanita itu begitu dingin mem-beku. Namun sang anak dalam buntalan kain itu tetap hangat, sehangat telapak tangan di dekat perapian.
Sang kakek tua pemilik rumah menggendongnya dalam pangkuan. Menatap mata berwarna hijau terang memancarkan aura yang kuat membuat Sollomon tersenyum yang dibalas senyum pula oleh bayi laki-laki itu seolah mengerti.

Lima belas tahun telah berlalu sejak Sollomon pertama kali menemukan seorang wanita di depan pintu rumahnya. Kini Erik−begitu Sollomon menamainya−sudah dia anggap dan akui sebagai cucunya sendiri. Tak hanya pandangan mata hijaunya yang menyiratkan kecerdasan tapi perilaku Erik sehari-hari menunjukkan bahwa Ia memang merupakan anak yang brilian.
Erik tak pernah mengetahui tentang siapa atau seperti apa orang tuanya, karena Sollomon hanya bercerita sebatas bahwa Ia merupakan cucunya, garis keturunan terakhir dan satu-satunya.
Tahun-tahun itu Ia jalani layaknya kehidupan anak-anak menuju remaja biasa. Erik dengan perawakan tinggi dan rambutnya yang hitam dikenal hanpir di seluruh kota karena kecekatannya dalam mengerjakan pekerjaan apapun.
Ya, di usianya yang masih belia Ia sudah bekerja untuk membantu kakeknya yang semakin tua renta itu. Dari mulai mengantar koran, mengantar susu botol, sampai mencuci piring  di restoran ketika waktu makan malam pun Ia kerjakan. Sedangkan Sollomon sendiri merupakan seorang pengrajin ukiran kayu dari pohon oak.
Sollomon meskipun begitu, wajahnya menyiratkan bahwa dia masih berusia  dari umurnya sekarang. Jari-jemarinya masih terampil dalam memerankan pahat pada kayu yang telah dijemur selama satu musim. Menjadikannya suatu karya seni yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang berselera tinggi.
Namun selama belasan tahun ini keadaan alam semakin tak menentu. Bumi semakin tidak bersahabat dengan manusia, dan mungkin begitu pun sebaliknya. Erik semakin sering memergoki Sollomon yang selalu nampak ceria di depannya itu, berdiam diri di depan perapian memandang kosong dunia yang tak ada di depan matanya. Tapi, Ia selalu menahan diri untuk bertanya.
Sampai suatu hari, di musim dingin januari tak sengaja Erik menemukan secarik perkamen ketika Ia sedang membersihkan atap rumah tuanya itu. Kertas itu berisi,

“Saat gerhana bulan terjadi, semua akan menjadi gelap gulita. Dan cahaya tak akan pernah kembali menerangi, sampai sang pewaris berdiri dan menyatakan perang.”

Erik tak berbicara untuk sesaat dan Ia hanya menganggap bahwa itu hanya sekadar kata-kata syair biasa dan mengembalikan gulungan perkamen itu ke tempatnya semula. Dan ketika Ia akan menaruhnya, Ia melihat sebuah kotak persegi terbuat dari tembaga tersimpan di sudut seolah sengaja disembunyikan.
Diambilnya kotak itu dan Ia masukkan ke saku jaketnya lalu kembali ke bawah segera masuk ke kamar dan tak lupa mengunci kamarnya.
Dibukanya kotak yang dipenuhi simbol-simbol yang sama sekali tak dimengerti oleh Erik itu.
Sebuah batu berbentuk lonjong berwarna biru cerah menyala seukuran empat jari tersimpan dengan baik di dalamnya. Semula Erik hanya terkagum memandangi, kemudian perlahan tangannya tak tahan untuk menyentuh dan diangkatnya batu itu ke depan wajahnya.
Ajaibnya, batu itu seolah mendapat energi menyala semakin terang dalam tangan Erik. Ia tampak takjub. Namun tak berlangsung lama suara pintu terbuka terdengar begitu kencang dibantingkan. Dan Erik pun segera mengantungi batu tersebut di saku celana katunnya.
“Erik, kita harus segera meninggalkan tempat ini!” Pinta Sollomon dengan nafas yang terengah-engah seperti baru saja bertemu seekor monster.
“Apa yang terjadi kakek?” Erik bergeming menuntut penjelasan.
“Akan ku jawab, tapi bukan sekarang waktunya. Kita harus pergi. Bawa barang yang kau perlukan seperlunya saja!” Sollomon tak mengacuhkan kebingungan yang tersirat dalam tanya Erik, dan segera meninggalkan kamar.
Erik yang paham bahwa Ia tak akan mendapat jawaban segera mengepak apa saja yang Ia perlu bawa dalam perjalanan ini, atau tepatnya pelarian ini.
Kini mereka berdua tengah berjalan menulusuri jalan setapak ke arah barat.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Dan ke mana kita akan pergi?” Erik masih bersikeras menuntut sebuah jawaban atas pertanyaannya itu, sembari menggenggam saku celananya memastikan batu itu masih berada di sana.
“Pertanyaan pertama akan aku jawab setelah sampai di barat, dan ngomong-ngomong kita akan berkunjung ke salah seorang sahabat lama, tepatnya ke tempat yang jauh lebih aman−setidaknya menurutku.” Jawab Sollomon dengan senyum aneh yang menghiasai wajahnya. Erik tampak akan kembali pertanya, namun Sollomon langsung berkata, “Aku tak akan menjawab pertanyaanmu, lebih baik simpan tenagamu karena kita harus sampai sebelum malam datang.” Erik hanya mengangguk dan berdiam diri akhirnya.

*****

2 comments:

  1. knapa maceet -___-
    zi, tlisan ny trlalu tipis, kalah sma bckground ny
    hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. apanya yg macet? hehe
      iya ya? ini juga lagi coba ngedit terus ko. Maklum belum terlalu ngerti blog. btw, thx ya :D

      Delete