Salju turun dengan
damai, angin tampak tenang. Tadi malam baru saja badai hebat melewati kota.
Meskipun begitu orang-orang masih enggan untuk keluar rumah mereka karena di
luar terlihat hamparan selimut putih−beku−menumpuk di jalanan. Membuat suasana
kota tampak lengang dan tak terlihat satu makhluk hidup pun berada di
tengah-tengahnya.
Badai
memang telah berlalu namun musim dingin masih harus dijalani beberapa waktu
lagi. Climate change memang telah
menjadi suatu fenomena yang bukan sekadar isu belaka. Dan sebagian dari orang
tua mereka meyakini bahwa hal ini terjadi bukan hanya karena faktor alam. Melainkan
ada kekuatan-kekuatan kuno yang mencoba mengendalikan dan ingin merusak umat manusia.
Tak
lama terlihat satu−atau dua−kehidupan, seorang wanita yang mengenakan mantel
dan membawa buntalan kain di pangkuannya−seorang bayi. Ia berjalan dengan
gontai, sepertinya tanpa tujuan. Dengan bibir yang pucat dan tenggorokan yang
kering kehausan, akhirnya Ia memilih untuk berhenti sejenak di depan pintu
sebuah rumah bergaya lama. Ia pun tertidur.
Saat
sang pemilik rumah menemukan wanita itu, Ia segera membawanya ke dalam. Tubuh
wanita itu begitu dingin mem-beku. Namun sang anak dalam buntalan kain itu
tetap hangat, sehangat telapak tangan di dekat perapian.
Sang
kakek tua pemilik rumah menggendongnya dalam pangkuan. Menatap mata berwarna
hijau terang memancarkan aura yang kuat membuat Sollomon tersenyum yang dibalas
senyum pula oleh bayi laki-laki itu seolah mengerti.
Lima belas tahun
telah berlalu sejak Sollomon pertama kali menemukan seorang wanita di depan
pintu rumahnya. Kini Erik−begitu Sollomon menamainya−sudah dia anggap dan akui
sebagai cucunya sendiri. Tak hanya pandangan mata hijaunya yang menyiratkan
kecerdasan tapi perilaku Erik sehari-hari menunjukkan bahwa Ia memang merupakan
anak yang brilian.
Erik
tak pernah mengetahui tentang siapa atau seperti apa orang tuanya, karena
Sollomon hanya bercerita sebatas bahwa Ia merupakan cucunya, garis keturunan
terakhir dan satu-satunya.
Tahun-tahun
itu Ia jalani layaknya kehidupan anak-anak menuju remaja biasa. Erik dengan
perawakan tinggi dan rambutnya yang hitam dikenal hanpir di seluruh kota karena
kecekatannya dalam mengerjakan pekerjaan apapun.
Ya,
di usianya yang masih belia Ia sudah bekerja untuk membantu kakeknya yang
semakin tua renta itu. Dari mulai mengantar koran, mengantar susu botol, sampai
mencuci piring di restoran ketika waktu
makan malam pun Ia kerjakan. Sedangkan Sollomon sendiri merupakan seorang
pengrajin ukiran kayu dari pohon oak.
Sollomon
meskipun begitu, wajahnya menyiratkan bahwa dia masih berusia
dari umurnya sekarang. Jari-jemarinya masih
terampil dalam memerankan pahat pada kayu yang telah dijemur selama satu musim.
Menjadikannya suatu karya seni yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang
berselera tinggi.
Namun
selama belasan tahun ini keadaan alam semakin tak menentu. Bumi semakin tidak
bersahabat dengan manusia, dan mungkin begitu pun sebaliknya. Erik semakin
sering memergoki Sollomon yang selalu nampak ceria di depannya itu, berdiam
diri di depan perapian memandang kosong dunia yang tak ada di depan matanya.
Tapi, Ia selalu menahan diri untuk bertanya.
Sampai
suatu hari, di musim dingin januari tak sengaja Erik menemukan secarik perkamen
ketika Ia sedang membersihkan atap rumah tuanya itu. Kertas itu berisi,
“Saat gerhana bulan
terjadi, semua akan menjadi gelap gulita. Dan cahaya tak akan pernah kembali
menerangi, sampai sang pewaris berdiri dan menyatakan perang.”
Erik tak berbicara untuk sesaat dan Ia
hanya menganggap bahwa itu hanya sekadar kata-kata syair biasa dan
mengembalikan gulungan perkamen itu ke tempatnya semula. Dan ketika Ia akan
menaruhnya, Ia melihat sebuah kotak persegi terbuat dari tembaga tersimpan di
sudut seolah sengaja disembunyikan.
Diambilnya kotak itu dan Ia masukkan ke
saku jaketnya lalu kembali ke bawah segera masuk ke kamar dan tak lupa mengunci
kamarnya.
Dibukanya kotak yang dipenuhi
simbol-simbol yang sama sekali tak dimengerti oleh Erik itu.
Sebuah batu berbentuk lonjong berwarna
biru cerah menyala seukuran empat jari tersimpan dengan baik di dalamnya.
Semula Erik hanya terkagum memandangi, kemudian perlahan tangannya tak tahan
untuk menyentuh dan diangkatnya batu itu ke depan wajahnya.
Ajaibnya, batu itu seolah mendapat
energi menyala semakin terang dalam tangan Erik. Ia tampak takjub. Namun tak
berlangsung lama suara pintu terbuka terdengar begitu kencang dibantingkan. Dan
Erik pun segera mengantungi batu tersebut di saku celana katunnya.
“Erik, kita harus segera meninggalkan
tempat ini!” Pinta Sollomon dengan nafas yang terengah-engah seperti baru saja
bertemu seekor monster.
“Apa yang terjadi kakek?” Erik
bergeming menuntut penjelasan.
“Akan ku jawab, tapi bukan sekarang
waktunya. Kita harus pergi. Bawa barang yang kau perlukan seperlunya saja!”
Sollomon tak mengacuhkan kebingungan yang tersirat dalam tanya Erik, dan segera
meninggalkan kamar.
Erik yang paham bahwa Ia tak akan
mendapat jawaban segera mengepak apa saja yang Ia perlu bawa dalam perjalanan
ini, atau tepatnya pelarian ini.
Kini mereka berdua tengah berjalan
menulusuri jalan setapak ke arah barat.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Dan ke
mana kita akan pergi?” Erik masih bersikeras menuntut sebuah jawaban atas pertanyaannya
itu, sembari menggenggam saku celananya memastikan batu itu masih berada di
sana.
“Pertanyaan pertama akan aku
jawab setelah sampai di barat, dan ngomong-ngomong kita akan berkunjung ke
salah seorang sahabat lama, tepatnya ke tempat yang jauh lebih aman−setidaknya
menurutku.” Jawab Sollomon dengan senyum aneh yang menghiasai
wajahnya. Erik tampak akan kembali pertanya, namun Sollomon langsung berkata,
“Aku tak akan menjawab pertanyaanmu, lebih baik simpan tenagamu karena kita
harus sampai sebelum malam datang.” Erik hanya mengangguk dan berdiam diri
akhirnya.
*****
knapa maceet -___-
ReplyDeletezi, tlisan ny trlalu tipis, kalah sma bckground ny
hehe
apanya yg macet? hehe
Deleteiya ya? ini juga lagi coba ngedit terus ko. Maklum belum terlalu ngerti blog. btw, thx ya :D